LAMPUNG -Tintalampung.com-Perubahan Iklim Dorong Peningkatan Kasus DBD dan Pengendalian Lingkungan berbasis lingkungan dinilai Paling Efektif
Penulis : Monia Agista magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Lampung

perubahan iklim semakin berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.
Kenaikan suhu udara, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya kelembapan menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penularan virus dengue.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat lonjakan signifikan kasus DBD sepanjang 2024. Tercatat sebanyak 257.271 kasus dengan 1.461 kematian, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2023.

Tren ini sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) yang menyebut perubahan iklim sebagai salah satu faktor pendorong utama meningkatnya penularan dengue secara global.
Pakar kesehatan lingkungan menjelaskan bahwa suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup nyamuk dan memperpendek masa inkubasi virus di dalam tubuh vektor. Sementara itu, pola hujan yang tidak menentu memicu terbentuknya genangan air di lingkungan permukiman, yang menjadi tempat ideal bagi perkembangbiakan nyamuk.Di Indonesia,
dampak perubahan iklim tersebut diperkuat oleh kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Sistem drainase yang belum memadai, pengelolaan sampah yang kurang optimal, serta kebiasaan menyimpan air tanpa penutup masih banyak ditemukan, terutama di kawasan perkotaan padat penduduk. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan fogging.

Metode tersebut dinilai bersifat sementara karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyasar sumber perkembangbiakan. Pengendalian berbasis lingkungan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dinilai lebih efektif dan berkelanjutan.Pendekatan ini menekankan pada upaya menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Berbagai studi menunjukkan bahwa pengendalian berbasis komunitas mampu menurunkan kepadatan jentik nyamuk secara signifikan jika dilakukan secara konsisten.Selain peran masyarakat, penguatan kebijakan juga dinilai penting.
Integrasi isu perubahan iklim ke dalam sistem surveilans kesehatan diperlukan agar peningkatan risiko DBD dapat diprediksi lebih dini. Sistem peringatan dini berbasis data iklim dan kesehatan diharapkan mampu mendukung respons cepat pemerintah daerah dalam mencegah kejadian luar biasa. Perubahan iklim diperkirakan masih akan terus berlangsung dan berdampak pada kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu, upaya pengendalian DBD perlu diarahkan pada strategi adaptasi jangka panjang yang berbasis lingkungan, kolaboratif, dan berkelanjutan, guna melindungi masyarakat dari ancaman penyakit akibat perubahan iklim.

DAFTAR PUSTAKAHales, S., De Wet, N., Maindonald, J., & Woodward, A. (2002). Potential effect of population and climate changes on global distribution of dengue fever: an empirical model. The Lancet, 360(9336), 830-834. DOI: 10.1016/S0140-6736(02)09964-6Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Profil Kesehatan Indonesia 2024 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023).Deteksi Dini Demam Berdarah Dengue (DBD).Leung, X. Y., dkk. (2023). A systematic review of dengue outbreak prediction models. PLOS Neglected Tropical Diseases. (reviews model prediksi hubungan iklim-dengue).World Health Organization. Dengue upsurge (2023–present) — situasi & faktor pendorong (termasuk perubahan iklim). (2023).
